Pameran Budaya Luruskan Stigma Keris dan Tosan Aji
BANJARNEGARA – Sekitar 100 pusaka koleksi anggota Puri Taji Kudi Mas Banjarnegara dipamerkan kepada masyarakat, di balai Kelurahan Karangtengah, Minggu (30/8/2026). Tujuannya mengenalkan keris dan tosan aji dari sisi sejarah, budaya, serta filosofi.
Ketua Kudi Mas Banjarnegara, Sagiyo, mengatakan pemahaman masyarakat tentang keris perlu diperluas, terutama di kalangan generasi muda. Kegiatan pameran menjadi upaya meluruskan pandangan masyarakat tentang benda pusaka yang berkaitan dengan hal-hal mistis. Koleksi tersebut terdiri atas kudi, kujang, keris, tombak, dan pedang dari berbagai periode.
“Kami ingin berbagi pengetahuan nilai historis dan budaya. Utamanya, pesan simbolik dalam pamor dan ricikan keris sebagai warisan budaya tak benda kepada masyarakat luas,” jelas Sagiyo, pada acara Pameran dan Bincang Budaya tersebut.
Lebih lanjut, pameran tersebut menjadi bagian dari Harmony Budaya #3 yang digelar Kudi Mas bersama Karang Taruna Kelurahan Karangtengah. Selain pameran, kegiatan diisi bincang budaya yang diikuti sekitar 50 peserta. Peserta berasal dari Paguyuban Permadani, Bambu Aji, budayawan, seniman, pemerhati sejarah, mahasiswa KKN, dan masyarakat sekitar.
Narasumber senior Kudi Mas, Ki Suprapto, menjelaskan berbagai aspek keris dan tosan aji. Materinya meliputi bentuk fisik, sejarah, filosofi, hingga etika memperlakukan pusaka.
“Kita edukasi tentang tosan aji terutama keris, antara lain tentang pamor, sejarah, perkiraan era pembuatan, cara memegang, hingga cara menyampirkan keris yang benar sesuai pakem dan tata krama,” papar Ki Suprapto.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, Tursiman, mendukung kegiatan yang digagas masyarakat dan karang taruna tersebut. Menurutnya, generasi muda perlu mengenal warisan budaya leluhur.
“Keris itu pusaka, mahakarya peradaban, bukan benda klenik. Semoga pameran ini bisa sedikit mengubah pandangan keliru bahwa keris adalah benda mistis,” ujar Tursiman.
Ia menambahkan, pengenalan keris juga dapat menjadi sarana untuk memahami nilai ketelitian, kesabaran, dan identitas budaya.
Salah seorang peserta dari Paguyuban Permadani, Heru Wiharso, mengatakan edukasi tentang keris diperlukan untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap pusaka.
“Keris sering jadi stigma miring yang dilekatkan dengan hal-hal mistis, padahal keris adalah warisan budaya. Di sinilah diperlukan edukasi terutama bagi Gen Z dan masyarakat awam agar paham cara pandang dan nilai keris sebenarnya,” tutur Heru.
Penulis: mjp, Tim Kominfo Banjarnegara
Editor: Tn, Dinas Komdigi Jateng
01 September 2026 - Yandip Prov Jateng (2)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0

