8 SMV Kementerian Keuangan Kembangkan Kemiri NTB, Target Ekspor hingga Pasar Global

8 SMV Kementerian Keuangan mengembangkan kemiri NTB dari hulu ke hilir untuk meningkatkan produksi, pendapatan petani dan akses pasar ekspor.

September 29, 2026 - 09:08
8 SMV Kementerian Keuangan Kembangkan Kemiri NTB, Target Ekspor hingga Pasar Global
Sinergi SMV Kementerian Keuangan Dorong Kemiri NTB Menembus Pasar Global

MATARAM – Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) terus mendorong optimalisasi peran Special Mission Vehicle (SMV) sebagai bagian dari kekayaan negara untuk menciptakan nilai tambah bagi perekonomian dan masyarakat.

Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Sinergi SMV Kementerian Keuangan 2026 bertajuk “Pemberdayaan Komoditas Desa Devisa Kemiri Nusa Tenggara Barat yang Berkelanjutan dan Berorientasi Ekspor”.

Program yang diluncurkan di Mataram, Kamis (24/9/2026), tersebut menyasar 40 desa dan 350 petani binaan. Total lahan yang tercakup mencapai sekitar 7.836 hektare dengan produksi kemiri sekitar 120 ton per tahun.

Intervensi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penyediaan bibit, peningkatan kapasitas petani, pembangunan sentra produksi, modernisasi proses pascapanen, pemanfaatan energi surya, hingga pengembangan produk turunan seperti minyak kemiri dan briket.

Pemerintah Dorong Potensi Daerah Jadi Sumber Pertumbuhan

Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara mengatakan, pengembangan potensi daerah menjadi salah satu bagian penting dalam memperluas sumber pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah pusat, menurutnya, berperan sebagai enabler untuk mempercepat pengembangan potensi ekonomi daerah. Dengan demikian, daerah tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.

“Saya senang melihat semangat sinergi yang sangat kuat di NTB. Semangat ini sejalan dengan visi pembangunan NTB, yaitu ‘Bangkit Bersama Menuju NTB Provinsi Kepulauan yang Makmur dan Mendunia’. SMV hadir untuk menginisiasi, memperkuat kapasitas, membangun ekosistem, dan membuka akses,” demikian disampaikan Suahasil dalam sambutan yang dibacakan Staf Ahli Menteri Keuangan Dwi Teguh Wibowo.

Setelah ekosistem dan model bisnis terbentuk, pemerintah daerah bersama masyarakat dan pelaku usaha diharapkan dapat melanjutkan serta memperbesar skala kegiatan tersebut.

Delapan SMV Kementerian Keuangan mengambil peran sesuai mandat dan kompetensi masing-masing.

LPEI/Indonesia Eximbank mendukung pengolahan pascapanen serta penyediaan peralatan penunjang produk kemiri. PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII) memperkuat kapasitas petani di Lombok, Sumbawa, dan Bima, sementara PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) mendukung penanaman bibit kemiri.

PT Sarana Multigriya Finansial (PT SMF) berperan dalam pembangunan sentra produksi. PT Geo Dipa Energi (PT GDE) mendukung pemanfaatan energi surya melalui pemasangan panel surya, sedangkan PT Karabha Digdaya mendukung pengelolaan pascapanen.

Adapun Indonesia Infrastructure Finance (IIF) dan PT Sejahtera Eka Graha mengambil peran dalam pengembangan produk turunan kemiri, seperti briket dan minyak kemiri.

Kemiri NTB Didorong Masuk Pasar Global

Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas kemiri sekaligus memperluas manfaat ekonominya bagi masyarakat.

“Kemiri adalah salah satu potensi NTB yang dapat kita tingkatkan nilai tambahnya. Kolaborasi ini penting agar pengembangannya tidak berhenti pada produksi, tetapi terhubung dari hulu hingga hilir dan mampu menjangkau pasar global,” ujar Iqbal.

Menurutnya, pengembangan kemiri perlu memberikan dampak langsung terhadap produktivitas dan pendapatan petani serta mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi di daerah.

Direktur Eksekutif LPEI Sukatmo Padmosukarso mengatakan, sinergi antar-SMV diharapkan mampu membangun ekosistem kemiri NTB yang lebih kuat, mulai dari peningkatan kapasitas produksi hingga pembukaan akses pasar global.

Sebagai lembaga yang memiliki mandat dalam mendorong ekspor nasional, LPEI berperan memperkuat kesiapan produk dan pelaku usaha agar mampu memenuhi standar pasar ekspor.

“Kemiri NTB memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi komoditas ekspor bernilai tambah. Tantangannya adalah bagaimana kita menghubungkan potensi di tingkat petani dengan standar kualitas, pengolahan, dan akses pasar global,” kata Sukatmo.

Melalui sinergi tersebut, LPEI ingin membangun rantai nilai yang lebih kuat sehingga manfaat ekspor tidak hanya tercermin dari peningkatan transaksi, tetapi juga dirasakan petani dan masyarakat di daerah.

Target Petani dan Produksi Kemiri Meningkat

Berdasarkan kajian dan asesmen lapangan Yayasan Insan Bumi Mandiri, program tersebut ditargetkan meningkatkan jumlah petani yang terlibat di wilayah Lombok, Sumbawa, dan Bima menjadi 550–720 orang.

Produksi kemiri juga ditargetkan meningkat secara bertahap hingga mencapai 2.400–3.600 ton per tahun.

Dari sisi ekonomi, pendapatan petani ditargetkan meningkat sekitar 20–25 persen, sementara efisiensi produksi diharapkan mencapai 60–70 persen.

Program tersebut juga diproyeksikan membuka akses ke 3–6 negara tujuan ekspor baru serta meningkatkan nilai ekonomi lokal sekitar Rp30 miliar–Rp40 miliar per tahun.

Rangkaian peluncuran turut diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman antara LPEI dan Pemerintah Provinsi NTB terkait pengembangan kapasitas UMKM yang berorientasi ekspor.

LPEI juga menyerahkan Buku Potensi Ekspor NTB yang memuat kajian sejumlah komoditas unggulan daerah untuk dikembangkan menuju pasar global.

Kegiatan ditandai dengan simbolisasi penyerahan bibit kemiri dan pelepasan ekspor sejumlah komoditas unggulan NTB.

Komoditas tersebut meliputi kemiri tujuan Jepang dengan potensi pasar Singapura serta vanilla tujuan Amerika Serikat sebanyak 1,4 ton dengan nilai Rp3,8 miliar.

Selain itu, sebanyak 16 pelaku usaha binaan SMV di NTB turut menampilkan produk unggulan dalam sesi showcase.

LPEI dan Pemerintah Provinsi NTB juga menandatangani MoU untuk memperkuat daya saing ekspor daerah. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan kapasitas UKM, koperasi, dan BUM Desa yang berorientasi ekspor di NTB.

Peluang Ekspor Kemiri Indonesia Masih Terbuka

Kajian IEB Institute mencatat nilai ekspor kemiri Indonesia mencapai 9,58 juta dolar AS pada periode Januari–September 2025.

Pada 2024, Indonesia tercatat berada di peringkat ke-13 sebagai eksportir kemiri dunia dengan pangsa sekitar 0,5 persen dari total ekspor global. Bangladesh dan Malaysia menjadi dua pasar utama dengan kontribusi gabungan sekitar 64 persen.

Namun, peluang ekspansi pasar masih terbuka. Tiongkok, Amerika Serikat, Vietnam, Jerman, dan Belanda diidentifikasi sebagai sejumlah pasar yang masih memiliki potensi untuk dikembangkan.

Karena itu, peningkatan kualitas dan konsistensi produk, modernisasi pengolahan, serta penguatan akses pasar menjadi bagian penting dalam pengembangan komoditas kemiri NTB.

Pengembangan ekspor kemiri juga dapat diarahkan pada peningkatan nilai tambah dan mutu produk. Selain sebagai komoditas rempah, kemiri dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan, seperti bumbu, saus, makanan olahan, dan minyak nabati.

Untuk meningkatkan daya saing di pasar global, kemiri NTB tidak hanya dikembangkan dalam bentuk bahan mentah. Produk dapat diarahkan menjadi komoditas yang lebih siap masuk ke industri, seperti kemiri kupas, kemiri sangrai, kemiri bubuk, pasta bumbu, hingga minyak kemiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0