Minta Sepeda Listrik, Malayeka Jalani Ruwatan Rambut Gimbal

September 1, 2026 - 15:16

BANJARNEGARA – Sepeda listrik warna merah jambu (pink) menjadi permintaan Malayeka Rafana Arabella, warga Desa Bandingan, sebelum menjalani Ruwatan Rambut Gimbal dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026. Gadis kecil berusia delapan tahun tersebut merupakan satu dari 13 anak bajang atau anak berambut gimbal yang mengikuti prosesi ruwatan tahun ini.

“Sepeda listrik warna pink, yang depannya ada keranjangnya,” kata Sainem, ibu Malayeka, saat ditemui dalam rangkaian DCF 2026 di Kompleks Candi Arjuna, Dieng, Jumat (28/8/2026).

Menurut Sainem, rambut gimbal putrinya mulai tumbuh saat berusia sekitar tiga bulan. Hingga duduk di kelas 2 SD, rambut tersebut belum pernah dicukur.

Lebih lanjut, permintaan Malayeka berubah seiring bertambahnya usia. Saat masih kecil, ia pernah meminta makanan dan minuman sederhana.

“Kalau waktu kecil juga pernah minta Yakult. Tambah besar, tambah gede juga permintaannya,” tuturnya.

Ketua Pelaksana DCF 2026, Alif Faozi, mengatakan permintaan tersebut menjadi bagian dari tata cara Ruwatan Rambut Gimbal yang masih dijalankan masyarakat Dieng. Sebelum rambut dicukur, anak bajang menyampaikan permintaan yang harus dipenuhi terlebih dahulu.

“Permintaan mereka beragam, mulai dari kambing, sepeda listrik, ayam kalasan, makanan, hingga telepon seluler,” kata Alif.

Setelah permintaan dipenuhi, rambut gimbal anak dicukur melalui prosesi adat. Masyarakat Dieng meyakini rambut gimbal yang tumbuh secara alami pada anak tertentu berkaitan dengan titipan leluhur Dieng, sehingga pencukurannya dilakukan melalui tata cara adat.

Ruwatan rambut gimbal menjadi salah satu agenda utama DCF 2026 yang mengusung tema “Spirit of Harmony”. Festival berlangsung di Kompleks Candi Arjuna pada 28–30 Agustus 2026.

Selain ruwatan, DCF menghadirkan kirab budaya dan Kongkow Budaya. Agenda tersebut menghadirkan Sabrang Mowo Damar Panuluh bersama Gamelan Kiai Kanjeng di Venue Arjuna, Jumat (28/8/2026).

Dalam Kongkow Budaya, Sabrang mengajak masyarakat dan pelaku wisata menjaga kelestarian alam Dieng. Ia mengingatkan agar pengembangan wisata tidak menghilangkan karakter dan keasrian kawasan.

“Jangan sampai Dieng hanya menjadi tempat ‘pindah kos-kosan’. Tetaplah menjadi daerah yang sejuk dan lestari alamnya,” ujar Sabrang.

Wakil Bupati Banjarnegara, Gus Wakhid Jumali, turut menyoroti persoalan lingkungan Dieng. Ia menyebut alih fungsi lahan dan erosi berdampak hingga kawasan hilir, termasuk sedimentasi Waduk Mrica.

Bupati Banjarnegara Amalia Desiana mengatakan DCF telah memasuki penyelenggaraan ke-16. Menurutnya, festival tersebut tetap mempertahankan budaya asli Pegunungan Dieng.

“Penyelenggara sengaja tidak mengandalkan bintang tamu atau artis papan atas untuk menarik massa, melainkan berfokus pada daya tarik budaya asli Pegunungan Dieng Banjarnegara,” katanya saat membuka DCF 2026, Jumat (28/8/2026).

Sebagai informasi, beraneka ragam permintaan anak-anak bajang yang harus dipenuhi oleh orang tua mereka masing-masing adalah dua ekor kambing kecil jantan dan betina, satu set peralatan makan, sepeda warna ungu, laptop dan ayam kalasan, perosotan dan ayunan berwarna pink. Ada pula permintaan anak berupa dua ekor ayam hidup, selendang kecil dan besar, ponsel, ikan hias, daging bebek, serta motor trail.

Penulis: ahr/zis/amr/mjp, Tim Kominfo Banjarnegara
Editor: Tn, Dinas Komdigi Jateng

01 September 2026 - Yandip Prov Jateng (2)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0