<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
     xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
     xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
     xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
     xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
     xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
     xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">
<channel>
<title>Galeri News &#45; : Cerpen</title>
<link>https://galerinews.com/rss/category/cerpen</link>
<description>Galeri News &#45; : Cerpen</description>
<dc:language>id</dc:language>
<dc:rights>©2025 GALERI MEDIA</dc:rights>

<item>
<title>Ospek dan Sepotong Senja di Jogja</title>
<link>https://galerinews.com/ospek-dan-sepotong-senja-di-jogja</link>
<guid>https://galerinews.com/ospek-dan-sepotong-senja-di-jogja</guid>
<description><![CDATA[ Kisah pertemuan antara Angga dan Sinta di sebuah kampus swasta di Jogja dan menumbuhkan benih-benih cinta diantara mereka berdua ]]></description>
<enclosure url="https://s3.ap-southeast-1.amazonaws.com/galerinews/uploads/images/202505/image_870x580_68331f93e44cd.jpg" length="49398" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Sun, 25 May 2025 11:10:01 +0700</pubDate>
<dc:creator>galerinews</dc:creator>
<media:keywords>Cerpen kisah cinta saat ospek</media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>galerinews.com - </strong>Langit Jogja sore itu menggantung awan jingga yang lembut, seolah turut menyambut hari pertama ospek di Universitas Negeri.</p>
<p>Di tengah keramaian mahasiswa baru yang berbaris rapi di lapangan, Angga berdiri canggung.</p>
<p>Ia bukan tipe yang mudah akrab, tapi hari itu entah kenapa matanya tertumbuk pada seorang gadis dengan rambut dikuncir rapi, memakai kacamata tipis, dan wajah yang tampak serius Sinta.</p>
<p>Pertemuan pertama mereka terjadi saat pembagian kelompok.</p>
<p>Takdir menempatkan mereka di tim yang sama, dan Angga yang biasanya pendiam mendadak aktif saat melihat Sinta kesulitan menyusun yel-yel.</p>
<p><em>"Kamu dari jurusan apa?" tanya Angga sambil mendekat, berusaha terdengar santai.</em></p>
<p><em>"Sastra Indonesia. Kamu?" </em>Sinta menoleh cepat, suaranya lembut namun tegas.</p>
<p><em>"Teknik Sipil. Kayaknya kamu jago nulis ya, bisa bantu bikin yel-yel?" goda</em> Angga.</p>
<p>Sinta tersenyum tipis. Dari situlah semuanya dimulai.</p>
<p>Hari-hari ospek berikutnya mempertemukan mereka terus-menerus. Mulai dari kerja kelompok, hukuman bareng karena telat, hingga sama-sama kehabisan makan siang di kantin.</p>
<p>Jogja yang hangat seolah jadi saksi diam hubungan yang perlahan tumbuh.</p>
<p>Di bawah pohon flamboyan depan fakultas, Angga dan Sinta sering duduk setelah kegiatan selesai. Mereka berbagi cerita tentang rumah, impian, dan kegelisahan menjadi mahasiswa baru.</p>
<p><em>"Aku pengen suatu hari nanti bisa nulis buku,"</em> kata Sinta suatu sore, menatap langit yang mulai berubah ungu.</p>
<p>Angga menoleh. "<em>Kalau kamu nulis, aku janji jadi pembaca pertama."</em></p>
<p>Tahun demi tahun berlalu, tak ada janji-janji muluk. Cinta mereka tumbuh seperti Jogja: tenang, sederhana, tapi mengakar.</p>
<p>Layaknya hubungan asmara, banyak perselisihan yang terjadi.</p>
<p></p>
<p>“Kita ketemu di hari pertama, di tempat yang asing, tapi rasanya seperti pulang,” bisik Sinta.</p>
<p>Angga tersenyum. “Karena sejak ketemu kamu, Jogja nggak pernah lagi terasa asing.”</p>
<p>Dan di bawah langit senja Jogja yang sama seperti dulu, mereka melangkah pergi, bersama, menulis cerita baru di Jogja. </p>
<p>Tapi cinta mereka, akan selalu terpatri di halaman pertama: Ospek, dan sepotong senja.</p>
<p><strong>Bagaimana kisah cinta Angga dan Sinta selanjutnya.....</strong></p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Lanjutan Jejak Rindu di Antara Dua Kota</title>
<link>https://galerinews.com/lanjutan-jejak-rindu-di-antara-dua-kota</link>
<guid>https://galerinews.com/lanjutan-jejak-rindu-di-antara-dua-kota</guid>
<description><![CDATA[ Pertemuan antara Arga dan Lila menumbuhkan perasaan lama, bagaimana selanjutnya? ]]></description>
<enclosure url="https://s3.ap-southeast-1.amazonaws.com/galerinews/uploads/images/202505/image_870x580_68315e0172750.jpg" length="49398" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Sat, 24 May 2025 12:51:19 +0700</pubDate>
<dc:creator>galerinews</dc:creator>
<media:keywords>cerpen kisah cinta</media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p data-start="90" data-end="381">Pertemuan Arga dan Lila di Bandung meninggalkan jejak yang lebih dalam dari yang mereka perkirakan. Setelah malam peluncuran buku itu, mereka mengobrol lama di sebuah kafe kecil, mengenang masa sekolah, tertawa atas kenakalan remaja, dan membiarkan keheningan sesekali datang tanpa canggung.</p>
<p data-start="383" data-end="492">Namun, saat Lila bertanya, "Kamu sendiri gimana, Ga? Ada yang nemenin?"—Arga terdiam sesaat, lalu mengangguk.</p>
<p data-start="494" data-end="570">"Ada. Namanya Dinda. Kami ketemu di kampus… dia baik, dewasa, sabar banget."</p>
<p data-start="572" data-end="709">Lila tersenyum, tapi ada gurat tipis di wajahnya yang tak bisa disembunyikan. "Senang dengarnya," katanya, meski hatinya seperti diremas.</p>
<p data-start="711" data-end="917">Arga tahu, kalimat itu bukan sekadar basa-basi. Ia juga tahu bahwa sejak bertemu kembali dengan Lila, perasaannya kembali goyah. Ada ruang dalam hatinya yang tak pernah benar-benar tertutup untuk gadis itu.</p>
<p data-start="919" data-end="1188">Di hari-hari berikutnya, Lila mencoba mengubur perasaan lama. Tapi yang terkubur justru rindu yang makin tumbuh. Ia tahu tak seharusnya berharap dari seseorang yang sudah dimiliki orang lain. Namun cinta, seperti halnya musim, tak bisa dikendalikan hanya dengan logika.</p>
<p data-start="1190" data-end="1419">Sementara itu, Arga gelisah. Ia menyayangi Dinda. Wanita itu telah menemaninya saat jatuh, mendukung mimpinya, dan mengerti dirinya lebih dari siapa pun. Tapi ia tak bisa membohongi hatinya bahwa cintanya pada Lila belum selesai.</p>
<p data-start="1421" data-end="1482">Di satu akhir pekan, Arga memutuskan bicara jujur pada Dinda.</p>
<p data-start="1484" data-end="1605">"Aku nggak selingkuh, Din. Tapi aku juga nggak bisa bohong. Aku ketemu Lila. Dan… perasaanku ke dia ternyata belum mati."</p>
<p data-start="1607" data-end="1862">Dinda hanya menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tak marah. "Terima kasih sudah jujur, Ga. Aku tahu kamu selalu berusaha jadi baik. Tapi cinta nggak bisa dipaksa… dan aku cukup mencintaimu untuk membiarkanmu pergi kalau memang itu yang terbaik."</p>
<p data-start="1864" data-end="2065">Keputusan itu bukan hal yang mudah. Arga merasa bersalah, sedih, dan kehilangan. Tapi juga lega. Ia akhirnya menghadapi apa yang selama ini dia hindari—pilihan antara nyaman dan rasa yang paling dalam.</p>
<p data-start="2067" data-end="2234">Beberapa bulan setelah itu, di sebuah sore di Taman Sari, Jogja, Lila datang berkunjung. Mereka duduk berdampingan, melihat matahari turun perlahan di balik pepohonan.</p>
<p data-start="2236" data-end="2369">"Aku nggak tahu apa yang akan terjadi besok," kata Arga, menggenggam tangan Lila. "Tapi hari ini, aku ingin mulai lagi… dengan kamu."</p>
<p data-start="2371" data-end="2496">Lila menatapnya, lalu tersenyum. "Kita memang terpisah waktu itu. Tapi mungkin, sekarang waktunya kita dipertemukan kembali."</p>
<p data-start="2498" data-end="2620">Dan di antara debur rindu yang lama terpendam dan luka yang perlahan sembuh, cinta itu akhirnya menemukan jalannya pulang.</p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>CERPEN: Jejak Rindu Dua Kota Antara Arga dan Lila</title>
<link>https://galerinews.com/cerpen-jejak-rindu-dua-kota-antara-arga-dan-lila</link>
<guid>https://galerinews.com/cerpen-jejak-rindu-dua-kota-antara-arga-dan-lila</guid>
<description><![CDATA[ Kisah bertemunya anatara Arga dan Lila dan tumbuh benih-benih cinta saat SMA ]]></description>
<enclosure url="https://s3.ap-southeast-1.amazonaws.com/galerinews/uploads/images/202505/image_870x580_68315b4d058ba.jpg" length="49398" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Sat, 24 May 2025 12:39:03 +0700</pubDate>
<dc:creator>galerinews</dc:creator>
<media:keywords>cerpen tentang cinta Arga dan Lila</media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p data-start="43" data-end="358">Di sebuah kota kecil di kaki gunung, Arga dan Lila pertama kali bertemu. Mereka duduk di bangku SMA yang sama, satu kelas, satu barisan. Arga, anak laki-laki yang pendiam dan suka membaca, sering kali duduk di pojok kelas, sementara Lila, ceria dan pandai bergaul, entah bagaimana selalu tertarik duduk di dekatnya.</p>
<p data-start="360" data-end="694">Awalnya hanya sebatas pinjam pulpen, lalu menjadi diskusi soal tugas matematika, hingga akhirnya saling berbagi cerita sebelum jam pelajaran dimulai. Hari-hari berlalu, dan kebersamaan mereka tumbuh tanpa mereka sadari. Di balik tawa dan gurauan remaja, ada benih cinta yang pelan-pelan tumbuh, meski tak pernah benar-benar diucapkan.</p>
<p data-start="696" data-end="931">Di akhir masa sekolah, di malam perpisahan yang penuh lampu-lampu gantung dan lagu kenangan, Arga memberanikan diri menggenggam tangan Lila. Hanya sebentar, tapi cukup untuk memberi tahu bahwa hatinya tak lagi bisa menyembunyikan rasa.</p>
<p data-start="933" data-end="971">"<strong>Aku suka kamu, La,</strong>" ucap Arga, pelan.</p>
<p data-start="973" data-end="1057">Lila tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Aku juga, Ga. Tapi… aku diterima di Bandung."</p>
<p data-start="1059" data-end="1255">Arga mengangguk. Ia tahu kabar itu. Ia sendiri akan kuliah di Jogja. Jarak itu bukan masalah, tapi waktu, kesibukan, dan realita seringkali punya cara sendiri memisahkan hati yang saling mencinta.</p>
<p data-start="1257" data-end="1624">Mereka berjanji akan tetap saling mengabari. Dan memang, selama beberapa bulan awal kuliah, pesan-pesan panjang dan panggilan malam menjadi jembatan rindu. Tapi perlahan, dunia masing-masing mulai menuntut lebih banyak perhatian. Tugas, teman baru, organisasi, semua menyita waktu dan energi. Pesan jadi lebih singkat, panggilan makin jarang, hingga akhirnya… hening.</p>
<p data-start="1626" data-end="1956">Tahun-tahun berlalu. Arga lulus dan bekerja di Jogja, menjadi penulis lepas. Lila menjadi arsitek muda di Bandung. Hidup membawa mereka pada jalan masing-masing, tapi dalam setiap jejak langkah, ada satu kenangan yang tak pernah pudar—tentang cinta pertama yang tumbuh di bangku sekolah, dan rindu yang tinggal di antara dua kota.</p>
<p data-start="1958" data-end="2165">Suatu hari, Arga datang ke Bandung untuk acara peluncuran bukunya. Di antara hadirin yang datang, matanya menangkap sosok yang tak asing. Lila, berdiri di pojok ruangan, dengan senyum yang sama seperti dulu.</p>
<p data-start="2167" data-end="2214">"Sudah lama ya," kata Lila, setelah acara usai.</p>
<p data-start="2216" data-end="2311">"Iya," jawab Arga, menatap mata yang pernah menjadi semestanya. "Tapi rasanya seperti kemarin."</p>
<p data-start="2313" data-end="2566">Mereka tidak tahu apakah pertemuan itu adalah awal dari babak baru, atau sekadar penutup dari kisah lama. Tapi satu hal yang pasti, cinta yang pernah tumbuh di masa sekolah itu tak pernah benar-benar hilang, ia hanya menunggu waktu untuk bertemu kembali.</p>
<p data-start="2313" data-end="2566"><a href="https://galerinews.com/lanjutan-jejak-rindu-di-antara-dua-kota" target="_blank" rel="noopener"><strong>BERSAMBUNG DISINI</strong></a></p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>CERPEN: Hujan Terakhir di Bulan Mei</title>
<link>https://galerinews.com/cerpen-hujan-terakhir-di-bulan-mei</link>
<guid>https://galerinews.com/cerpen-hujan-terakhir-di-bulan-mei</guid>
<description><![CDATA[ Jika suatu hari hujan membawamu kembali, aku akan menunggumu di tempat kita biasa bicara tentang mimpi ]]></description>
<enclosure url="https://s3.ap-southeast-1.amazonaws.com/galerinews/uploads/images/202505/image_870x580_6832919507f52.jpg" length="49398" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Sat, 24 May 2025 12:30:43 +0700</pubDate>
<dc:creator>galerinews</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p data-start="97" data-end="359">Langit menggantung kelabu di atas kota kecil itu. Aroma tanah basah memenuhi udara, dan suara rintik hujan jatuh perlahan di atas atap rumah-rumah tua.</p>
<p data-start="97" data-end="359"> Di sebuah kafe kecil di sudut jalan, seorang perempuan duduk sendiri di dekat jendela, menatap kosong ke luar.</p>
<p data-start="361" data-end="522">Namanya Lila. Rambutnya hitam tergerai, matanya menyimpan kenangan yang tak pernah selesai. Di depannya, secangkir teh melati mengepul pelan, namun tak disentuh.</p>
<p data-start="524" data-end="673">Pintu kafe terbuka, dan masuklah seorang pria dengan jaket abu-abu yang kuyup. Ia menyapu pandangan ke dalam, lalu tersenyum kecil saat melihat Lila.</p>
<p data-start="675" data-end="738">“Maaf aku terlambat,” katanya, mendekat. Lila menoleh perlahan.</p>
<p data-start="740" data-end="802">“Seperti biasa,” jawabnya datar, tapi tidak benar-benar marah.</p>
<p data-start="804" data-end="1018">Pria itu duduk di depannya. Namanya Arga. Lima tahun lalu, mereka pernah begitu dekat. Tapi waktu dan jarak membuat mereka hanya menjadi kenangan. Hari itu, untuk pertama kalinya sejak lama, mereka bertemu kembali.</p>
<p data-start="1020" data-end="1086">“Aku pikir kamu sudah lupa bagaimana cara ke kafe ini,” ujar Lila.</p>
<p data-start="1088" data-end="1173">“Aku tidak pernah lupa,” Arga menatap matanya. “Aku cuma takut kamu yang sudah lupa.”</p>
<p data-start="1175" data-end="1307">Lila tersenyum samar. Hujan semakin deras. Di luar, orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Di dalam, waktu seperti berhenti.</p>
<p data-start="1309" data-end="1346">“Apa kabar?” tanya Arga, suara pelan.</p>
<p data-start="1348" data-end="1405">Lila mengangkat bahu. “Baik. Kadang tidak. Kadang rindu.”</p>
<p data-start="1407" data-end="1415">“Rindu?”</p>
<p data-start="1417" data-end="1483">“Ya. Rindu masa lalu. Tapi lebih rindu pada versi kita yang dulu.”</p>
<p data-start="1485" data-end="1689">Arga menunduk. Ia tahu apa yang dimaksud Lila. Dulu mereka percaya cinta bisa melawan segalanya. Tapi hidup tak seindah novel. Ada pekerjaan, ambisi, dan keputusan-keputusan yang mengikis mereka perlahan.</p>
<p data-start="1691" data-end="1762">“Aku salah, Lila. Dulu aku terlalu mengejar hal yang aku kira penting.”</p>
<p data-start="1764" data-end="1815">Lila menatap keluar jendela. Hujan belum juga reda.</p>
<p data-start="1817" data-end="1917">“Kita semua pernah salah, Arga. Tapi hari ini kita duduk lagi di sini. Mungkin itu artinya sesuatu.”</p>
<p data-start="1919" data-end="2030">Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Lalu, Arga mengeluarkan sesuatu dari sakunya—sebuah kertas kecil, lusuh.</p>
<p data-start="2032" data-end="2114">“Aku menulis ini di hari terakhir kita bertemu. Tapi tak pernah sempat kuberikan.”</p>
<p data-start="2116" data-end="2180">Lila membuka lipatan kertas itu. Di sana hanya ada satu kalimat:</p>
<p data-start="2182" data-end="2291"><em><strong data-start="2182" data-end="2291">“</strong></em><strong data-start="2182" data-end="2291">Jika suatu hari hujan membawamu kembali, aku akan menunggumu di tempat kita biasa bicara tentang mimpi</strong><em><strong data-start="2182" data-end="2291">.”</strong></em></p>
<p data-start="2293" data-end="2376">Lila tersenyum, dan untuk pertama kalinya sejak mereka duduk, matanya berkaca-kaca.</p>
<p data-start="2378" data-end="2432">“Hujan ini, Arga... mungkin memang membawaku kembali.”</p>
<p data-start="2434" data-end="2536">Dan di bawah langit bulan Mei yang basah, cinta yang pernah hilang perlahan menemukan jalannya pulang.</p>]]> </content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>